Sabtu, 03 Januari 2026

Jawaban atau Ujian

 Kupikir dengan kejelasannya, hati ini tenang

Nyatanya justru hadir rasa bimbang

Setiap jawaban perlu dipikir matang

Agar tetap tegak, tak mudah tumbang


Katanya waktu yang akan menjawab

Namun seringkali ia hanya jadi kata tanpa sebab

Sebab jawaban tak lahir dari menunggu semu

Melainkan dari petunjuk yang mengetuk kalbu


Bukan waktu yang menentukan arah

Melainkan tanda yang menenangkan resah

Dari Dia, Sang Maha Pemberi Petunjuk

Tempat segala ragu akan luruh


Yang memang untukmu kelak kan hadir padamu

Yang bukan untukmu akan menemukan jalannya untuk menjauh

Share:

Senin, 22 Desember 2025

Malaikat tanpa Sayap

 Di balik langkah kakiku

Kuyakin ada doa yg selalu teriring untukku

Tak terdengar oleh telingaku

Namun kehadirannya terasa nyata di hatiku


Meski beribu pinta kulayangkan padamu

Terkadang aku meragu

Tak adakah lelah di bahumu

Sebab kulihat dirimu

Selalu berdiri tegak dan teguh


Tiada keluh meski penuh peluh

Tiada tangis meski hati pernah tertusuk

Begitu tegar engkau

Walau dunia tak ramah padamu


Namun itulah engkau

malaikat tanpa sayapku

yang penuh cinta 

kupanggil "Ibu"

Share:

Minggu, 21 Desember 2025

Malam

 Malam menyapa tanpa suara

Tak memanggil nama

Namun hati merasa

Ini saatnya diri menghadap


Melepaskan semua beban di atas sajadah

Sembari bersimpuh memohon ampunan

Atas bertambahnya dosa

Atas melemahnya iman


Kulangitkan lantunan doa

Memohon hadirnya cahaya

Di tengah lorong kehidupan nan gelap

Yang mengaburkan pandangan

Antara salah dan benar


Langkah ini seringkali goyah

Dan pilihanku tak selalu benar

Kala hati, akal, dan sikap berbenturan

Kuharap Engkau hadirkan cahaya kebenaran

Agar langkahku tak lagi salah

Menuju-Mu dengan tenang,

meski perlahan

Share:

Selasa, 02 Desember 2025

Senin, 01 Desember 2025

?

 Kukira ini adalah kisah yang tak pernah dimulai. Yang akan mudah terlupakan, terabaikan dan hilang seakan memang tak pernah ada. Tapi ternyata kisah ini telah berlangsung lebih lama dr yang kukira. Hingga bila ditelisik, tak tahu kapan semua bermula. Kisah lama yang belum memiliki akhir yg jelas. Namun jejaknya membekas begitu dalam. 


Ada rasa hangat yg tumbuh. Tiap kali bayangannya melintas. Ternyata yg dulu hadir hanya sebentar bisa meninggalkan senyum yg tak pernah benar-benar hilang hingga sekarang. Entah apakah kisah ini sebenarnya memang sudah berakhir. Atau masih berlangsung dan menjadi misteri takdir. Biarlah semua di tangan Sang Pemilik Skenario.

Share:

Persimpangan

 Ada masa ketika hati berdiri di persimpangan. 

Di satu sisi ada yg hadir mengetuk perlahan, sabar menunggu di depan pintu. 

Di sisi lain ada pintu yg terbuka utk yg tak pernah benar" pergi, meski langkahnya lama tak terdengar. 


Yang hadir perlahan, membawa percakapan dan membangun jembatan.

Yg tak benar" pergi, bayangnya tak pernah hilang meski waktu berusaha menghapusnya.

 Ia tak menyapa apalagi mendekat. 

Namun hati ini tetap menoleh ke arah dimana ia dulu berdiri.


Dan kini, hati ini terjebak. 

Antara memilih yg menghampiri.

Atau menunggu yg entah apakah akan kembali. 


Haruskah membuka lembaran baru

Atau menunggu halaman lama disambung kembali.


Haruskah memilih yg datang membawa kesempatan.

Atau menanti yg benar" diharapkan.

.

.

.

Mungkin jawabannya bukan pada mana yg harus dipilih. 

Tapi pada siapa yg benar" memilih hati ini tanpa ada keraguan. 


Biarlah irama takdir yg mengiring.

Mengikuti kehendak Sang Pemilik Hati.

Share:

Sabtu, 29 November 2025

SEPUCUK SURAT UNTUKMU DI SURGA

 Halo , sahabat . . maaf aku terlambat untuk menuliskan surat ini. Meskipun menjadi hal mustahil untukmu membaca surat ini, maafkan keegoisanku ya. .


Lama kita tak bersua, namun aku masih mengingat bagaimana suara dan logat unik mu yang terdengar ceria. Tawamu yang meriangkan hati. Tatapan matamu yang menyejukkan. Dan pelukan hangat setiap kali kita bersua. Aku masih ingat bagaimana awal pertemuan kita. Pertemuan awal yang sederhana namun menjadi suatu hal yang aku syukuri hingga saat ini. Berawal dari hanya bertukar tatap dan senyuman kecil akhirnya kita semakin dekat dan  menjadi sahabat. 


Banyak hal telah kita lalui bersama. Dari hal yang menyenangkan, menyebalkan hingga menyedihkan. Ketika dokter memvonismu mengidap penyakit itu, sungguh dadaku terasa sangat sesak. Seakan ada bongkahan batu besar yang mengganjal di dada. Sedangkan kau hanya tersenyum seakan itu bukan apa-apa. 


Waktu begitu cepat berlalu, akhirnya kamu memilih untuk kembali bersama orangtuamu dan melanjutkan pengobatan di kota yang lebih besar. Meski jarak ratusan kilometer memisahkan kita. Kita masih bertukar kabar. Seringkali mengobrolkan hal-hal konyol seakan jarak bukanlah apa apa. Saat itu aku berjanji pada diri sendiri kelak bila aku sudah bekerja aku akan menemui mu di kota besar atau mengunjungi rumah nenekmu ketika kamu pulang ke kampung halaman yang jaraknya hanya puluhan kilometer dari rumahku. 


Lagi dan lagi waktu terus berlalu. Kesibukan seakan menjadi rantai yang tak memberi ruang gerak. Aku belum bisa memenuhi janjiku. Hingga akhirnya hari itu tiba. Hari ketika aku pertama kali ke rumah nenekmu dan untuk terakhir kalinya aku melihatmu. Tanpa bisa memelukmu. Tanpa bisa mendengar suaramu.

 

Apakah ini bisa disebut dengan pertemuan? Ketika hanya aku yang melihatmu. Ketika kata saling sudah menjadi hal yang mustahil. Tak ada lagi saling memeluk, saling melihat, saling bertukar cerita, saling tertawa. Tak terdengar lagi melodi dari suaramu pun celoteh riang mu. Tak terlihat lagi tatapan hangat mu. Tubuhmu terbujur kaku. Namun wajah cantikmu masih terlihat cerah seakan kamu hanya tertidur lelap

Aku terlambat. Terlambat untuk menemui mu. Terlambat untuk menghubungimu. Penyesalan menggerogoti hatiku. Sakit. Hati ini sangat sakit. Dada ini sesak. Air mata menetes tanpa henti. Rasanya ini hanyalah satu dari sekian mimpi buruk ku. 


Saat itu kulihat ibumu terlihat tegar. Entah apakah beliau memang tegar atau air mata telah habis usai meluapkan duka yang mendalam. Ah, sekarang aku tahu. Sikap tegar mu ternyata menurun dari ibumu. 


Sahabatku, Allah sangat sayang denganmu. Dia memanggilmu di bulan penuh berkah. Bulan penuh ampunan. Aku hanya bisa berucap tanpa berharap kamu bisa mendengarnya, tanpa berharap kamu bisa membacanya. Namun aku ingin menuangkannya di sini. 


Selamat tinggal sahabatku. . Meski pertemuan kita singkat, semua kenangan indah tentangmu masih kusimpan dalam kotak memoriku. Aku berjanji akan selalu mendoakan mu. Surga untukmu, sahabatku. .


Sahabatku, Fitri Nurhalimah 🤍

Share:

Jumat, 20 Juni 2025

PERNIKAHAN (part 2)

Banyak orang belum menikah yang menantikan pernikahan. Begitupun denganku. Pernikahan impianku adalah pernikahan yang tenang. Tidak terlalu ramai, dan hanya ada aku, dia dan keluarga kami, serta sahabat terdekat kami. Tapi ternyata mengadakan pernikahan bukan hanya tentang aku dan dia. Tapi juga tentang keinginan keluarga untuk berbagi kebahagian dengan orang lain seperti tetangga, kerabat, teman, atau kenalan. Dan dari keinginan keluarga inilah muncul berbagai keresahan dan perdebatan. Banyak harapan yang ingin kuwujudkan. Namun, realita keadaan terus menekan. Rasanya aku ingin mewujudkan pernikahan terbaik versiku dan keluargaku. tapi di lain sisi, aku juga sadar akan keadaan finansialku. Sehingga aku harus ketat dalam memilih dan memilah vendor yang akan kusewa. Rasanya ingin sekali memilih vendor yg menurutku bagus, tapi entah kenapa yg kutemukan harganya tinggi. :') mungkin benar yaa, ada rupa ada harga?

Pikiranku ramai, jiwa pemimpiku berkata "ini momen sekali seumur hidup. Bayangkan, kamu akan menikah dengan sosok pujaan hati yang sudah kamu cintai sejak SMA. Kamu harus tampil cantik dan bahagia. Abadikan momen dg foto video terbaik. Jangan biarkan makeup longsor mengganggu moodmu.  Jangan biarkan keringat di wajahmu mengganggu momen yang selama ini kamu impikan. Jangan biarkan hasil foto blur malah menyuramkan momen bahagia sekali seumur hidupmu. Momen tak bisa diulang. Tapi uang bisa dicari"

Sedangkan jiwa realistisku memberontak "apa tujuanmu menikah? Bukankan tujuan menikah adalah SAH menjadi suami istri? Justru karena ini hanya acara sekali seumur hidup jangan sampai kamu mengorbankan hidupmu setelah acara ini selesai. Masih banyak yang harus diurus setelah acara selesai. Apa kamu ingin menabung hutang? Apa kamu ingin terus-terusan gigit jari karna gajimu berkurang banyak, krn kamu gunakan membayar hutang utk resepsi mu yang hanya sekali seumur hidup ini? Lihat kondisi ekonomimu saat ini, lihat juga kondisi perusahaanmu tempat mencari nafkah ini. Apakah setelah acara selesai kamu akan merasa tenang, ketika memikirkan uang untuk membeli beras, membayar listrik, pulsa dan kebutuhan lainnya yang biasa kamu berikan untuk keluargamu. Ingat kamu generasi sandwich. Kehidupan setelah menikah harus kamu pikir matang. Karena kamu harus bisa membagi uangmu untukmu, keluarga kecilmu, dan untuk orangtuamu dan mertuamu. Apa kamu mampu?"

Padahal sebenarnya yang disiapkan dalam pernikahan bukan hanya acaranya tapi juga kesiapan mental. Apakah aku sudah siap berbagi semua hal  termasuk "me time" ku dengan pasanganku? Apakah aku sudah siap menurunkan semua egoku? Apakah aku sudah siap belajar menjadi pasangan yang baik untuk pasanganku? Apakah aku sudah siap masuk ke dalam keluarga pasanganku? Apakah aku sudah selesai dengan lukaku? traumaku? kebiasaan burukku, apakah sudah kuperbaiki? Banyak sekali yang kupikirkan. Tapi, dibalik semua keresahan dan ovtku ini, aku memegang satu prinsip. Bahwa ini adalah proses. Hal yang harus kulakukan saat ini adalah bersabar dan menurunkan ego. Aku yakin apa yang tetulis untukku pasti akan menujuku. Entah itu MUA, FG, VG dan lainnya. 

Kita punya kendala, Allah punya kendali. 
Bersama kesulitan ada kemudahan. 

Share: