Jumat, 20 Juni 2025

PERNIKAHAN (part 2)

Banyak orang belum menikah yang menantikan pernikahan. Begitupun denganku. Pernikahan impianku adalah pernikahan yang tenang. Tidak terlalu ramai, dan hanya ada aku, dia dan keluarga kami, serta sahabat terdekat kami. Tapi ternyata mengadakan pernikahan bukan hanya tentang aku dan dia. Tapi juga tentang keinginan keluarga untuk berbagi kebahagian dengan orang lain seperti tetangga, kerabat, teman, atau kenalan. Dan dari keinginan keluarga inilah muncul berbagai keresahan dan perdebatan. Banyak harapan yang ingin kuwujudkan. Namun, realita keadaan terus menekan. Rasanya aku ingin mewujudkan pernikahan terbaik versiku dan keluargaku. tapi di lain sisi, aku juga sadar akan keadaan finansialku. Sehingga aku harus ketat dalam memilih dan memilah vendor yang akan kusewa. Rasanya ingin sekali memilih vendor yg menurutku bagus, tapi entah kenapa yg kutemukan harganya tinggi. :') mungkin benar yaa, ada rupa ada harga?

Pikiranku ramai, jiwa pemimpiku berkata "ini momen sekali seumur hidup. Bayangkan, kamu akan menikah dengan sosok pujaan hati yang sudah kamu cintai sejak SMA. Kamu harus tampil cantik dan bahagia. Abadikan momen dg foto video terbaik. Jangan biarkan makeup longsor mengganggu moodmu.  Jangan biarkan keringat di wajahmu mengganggu momen yang selama ini kamu impikan. Jangan biarkan hasil foto blur malah menyuramkan momen bahagia sekali seumur hidupmu. Momen tak bisa diulang. Tapi uang bisa dicari"

Sedangkan jiwa realistisku memberontak "apa tujuanmu menikah? Bukankan tujuan menikah adalah SAH menjadi suami istri? Justru karena ini hanya acara sekali seumur hidup jangan sampai kamu mengorbankan hidupmu setelah acara ini selesai. Masih banyak yang harus diurus setelah acara selesai. Apa kamu ingin menabung hutang? Apa kamu ingin terus-terusan gigit jari karna gajimu berkurang banyak, krn kamu gunakan membayar hutang utk resepsi mu yang hanya sekali seumur hidup ini? Lihat kondisi ekonomimu saat ini, lihat juga kondisi perusahaanmu tempat mencari nafkah ini. Apakah setelah acara selesai kamu akan merasa tenang, ketika memikirkan uang untuk membeli beras, membayar listrik, pulsa dan kebutuhan lainnya yang biasa kamu berikan untuk keluargamu. Ingat kamu generasi sandwich. Kehidupan setelah menikah harus kamu pikir matang. Karena kamu harus bisa membagi uangmu untukmu, keluarga kecilmu, dan untuk orangtuamu dan mertuamu. Apa kamu mampu?"

Padahal sebenarnya yang disiapkan dalam pernikahan bukan hanya acaranya tapi juga kesiapan mental. Apakah aku sudah siap berbagi semua hal  termasuk "me time" ku dengan pasanganku? Apakah aku sudah siap menurunkan semua egoku? Apakah aku sudah siap belajar menjadi pasangan yang baik untuk pasanganku? Apakah aku sudah siap masuk ke dalam keluarga pasanganku? Apakah aku sudah selesai dengan lukaku? traumaku? kebiasaan burukku, apakah sudah kuperbaiki? Banyak sekali yang kupikirkan. Tapi, dibalik semua keresahan dan ovtku ini, aku memegang satu prinsip. Bahwa ini adalah proses. Hal yang harus kulakukan saat ini adalah bersabar dan menurunkan ego. Aku yakin apa yang tetulis untukku pasti akan menujuku. Entah itu MUA, FG, VG dan lainnya. 

Kita punya kendala, Allah punya kendali. 
Bersama kesulitan ada kemudahan. 

Share: