Aku belajar bahwa pernikahan tidak selalu berisi dg kebahagian. Berkaca dari kehidupan pernikahan orang tuaku, pernikahan adalah tentang 2 orang yg berkomitmen utk tetap memilih satu sama lain dalam keadaan apapun. Benar-benar apapun. Mungkin bila kita masih single, saat kita dihadapkan dengan masalah yg sulit kita lalui, kita bisa menepi dan menenangkan diri. Dengan menjauh dari keluarga misalnya. Tapi bila sudah menikah, menepi atau kabur meskipun utk menenangkan pikiran tanpa memberitahu pasangan dan tanpa meminta ijin pasangan bisa menimbulkan percikan api yang bila dibiarkan bisa menjadi api membara yang membakar kedamaian dalam pernikahan.
Aku tidak berharap lebih dg kehidupanku setelah menikah. Aku hanya mengharapkan hal sederhana. Hidup tanpa ada suara bentakan. Tanpa ada nada tinggi. Tanpa ada yg merasa diri paling benar. Pernikahan yang saling merangkul, yang isinya saling menasihati bukan membentak, yang saling mendengar, yg saling mengingatkan bukan menyalahkan, yang saling memaklumi bukan saling menuntut, yang saling memahami bukan merasa paling benar, yang saling memperjuangkan satu sama lain. Dalam keadaan sesulit dan seminus apapun. Pernikahan yg di dalamnya aku dan suamiku merasa tenang dan nyaman. Pernikahan yg bisa membawa kami ke surga. Pernikahan yg sakinah mawadah warahmah.
0 komentar:
Posting Komentar